Kerugian Honda akibat transisi ke mobil listrik yang berisiko
Kerugian Honda Akibat Transisi ke Mobil Listrik yang Berisiko

Kerugian Honda Akibat Transisi ke Mobil Listrik yang Berisiko

Jakarta, CNBC Indonesia – mengalami tahunan pertama kalinya sejak 1955, terpaksa merugi akibat perubahan besar dalam industri kendaraan listrik (EV). Menurut laporan dari CNN International, pabrikan otomotif asal Jepang ini mencatat kerugian mencapai 1,6 triliun yen atau sekitar Rp177,5 triliun pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026.

Sebelumnya, Honda diprediksi masih bisa meraih laba hingga US$7,4 miliar atau sekitar Rp129,5 triliun. Namun, kenyataannya, perusahaan harus mencatat rugi bersih sebesar 403,3 miliar yen (Rp44,7 triliun). Kerugian ini disebabkan oleh perubahan kebijakan otomotif di Amerika Serikat (AS) di era Presiden Donald Trump, yang mencabut aturan emisi ketat dan menghapus insentif pajak sebesar US$7.500 (Rp131,25 juta) untuk pembeli kendaraan listrik.

Pencabutan subsidi ini berdampak signifikan, dengan penjualan EV di AS anjlok sejak September lalu. Kenaikan harga bensin juga tidak berhasil meningkatkan minat masyarakat untuk beralih ke . Sebelumnya, banyak produsen otomotif global ber besar-besaran untuk mempercepat transisi menuju kendaraan listrik penuh dalam dekade mendatang, seiring ekspektasi bahwa regulasi emisi di AS akan semakin ketat di bawah pemerintahan Joe Biden.

Namun, kebijakan Trump justru membatalkan regulasi tersebut dan menghapus ancaman sanksi bagi produsen yang melanggar standar emisi. Akibatnya, banyak pabrikan kembali fokus pada penjualan SUV dan truk berbahan bakar bensin, yang selama ini menjadi sumber keuntungan utama mereka. Meskipun langkah tersebut memberikan sedikit kelegaan, perusahaan tetap harus melakukan penyesuaian besar terhadap nilai investasi dalam proyek EV yang mencapai miliaran dolar.

Honda juga mengindikasikan kemungkinan adanya penurunan nilai investasi EV tambahan pada tahun fiskal yang sedang berjalan, meskipun diperkirakan tidak akan menyebabkan kerugian tahunan kembali terulang. Gelombang kerugian karena penyesuaian strategi EV juga dialami oleh banyak produsen otomotif besar lainnya. General Motors, misalnya, melaporkan kerugian sebesar US$7,2 miliar (sekitar Rp126 triliun) pada tahun 2025 akibat pengurangan agresif dalam bisnis kendaraan listriknya.

Sementara itu, Ford mengalami kerugian hingga US$17,4 miliar (sekitar Rp304,5 triliun) dan memperingatkan kemungkinan biaya tambahan di tahun ini. Di sisi lain, Stellantis yang menaungi merek Jeep, Ram, Dodge, dan Chrysler mencatat kerugian sebesar 25,4 miliar euro (setara Rp521,97 triliun). Meskipun demikian, para produsen otomotif global belum sepenuhnya meninggalkan kendaraan listrik. Mereka harus tetap menghadapi regulasi emisi yang semakin ketat di Eropa, Asia, dan beberapa negara bagian di AS, seperti California, yang menargetkan pelarangan penjualan mobil bensin baru mulai tahun 2035.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *