Industri Plastik Tertekan: Biaya Logistik Melonjak Drastis
Jakarta, CNBC Indonesia – Industri plastik di Indonesia saat ini tengah terhimpit oleh berbagai tantangan, terutama akibat lonjakan harga bahan baku dan meningkatnya biaya logistik. Kondisi ini menjadi semakin memprihatinkan di tengah krisis global yang melanda, menyebabkan pelaku industri harus beradaptasi dengan cepat agar tetap beroperasi.
Saat kondisi normal, rantai pasok bahan baku biasanya stabil, namun gangguan geopolitik yang terjadi belakangan ini telah mengubah jalur distribusi secara drastis. Hal ini memaksa para pelaku industri untuk mencari sumber bahan baku alternatif yang lebih jauh, yang tentu saja berdampak langsung pada kenaikan biaya logistik yang signifikan.
Waktu pengiriman yang semakin lama menambah kompleksitas dalam pengelolaan produksi. Selain itu, risiko yang lebih tinggi dalam pengiriman juga meningkatkan biaya asuransi yang harus ditanggung oleh pelaku industri. “Masalah asuransi menjadi salah satu yang paling terasa. Biaya asuransi untuk bahan baku yang kita beli melonjak drastis. Ditambah lagi, ada surcharge akibat konflik yang bisa mencapai 150 hingga 200 dolar,” ungkap Suhat Miyarso, Ketua Umum Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), dalam diskusi di Jakarta.
Lonjakan biaya ini menjadi tekanan terbesar bagi sektor industri saat ini. Perubahan sumber pasokan dari Timur Tengah ke wilayah lain seperti Amerika dan Afrika menyebabkan jarak tempuh pengiriman yang jauh lebih panjang. Suhat menambahkan, “Dulu, pengiriman dari Timur Tengah hanya memakan waktu 15 hari, sekarang bisa mencapai 50 hari. Ini berarti, biaya logistik bisa meningkat hampir tiga kali lipat.” Dengan meningkatnya biaya operasional, pelaku industri semakin sulit untuk mempertahankan harga jual, terutama mengingat daya beli masyarakat yang terbatas.
Sementara itu, Edi Rivai, Wakil Ketua Inaplas, turut menekankan bahwa kenaikan biaya ini hampir terjadi di seluruh lini, mulai dari bahan baku hingga operasional. “Kenaikan harga sangat berbanding lurus dengan harga minyak mentah, berkisar antara 80 hingga 120 persen. Biaya pendukung seperti logistik dan energi juga meningkat,” jelasnya. Tekanan biaya yang terus meningkat ini membuat margin keuntungan di sektor industri semakin berkurang, terutama bagi pelaku usaha yang tidak memiliki fleksibilitas dalam menentukan harga.
Melihat kondisi yang semakin memburuk, industri berharap adanya intervensi dari pemerintah untuk menjaga stabilitas biaya logistik dan distribusi. “Jika biaya logistik tidak terjaga, ini akan sangat membebani industri. Karena distribusi merupakan bagian yang sangat penting dari rantai produksi,” tegas Edi. Dengan situasi yang ada, keberlangsungan industri plastik di Indonesia harus menjadi perhatian semua pihak agar tidak terjebak dalam krisis yang lebih besar.
